Jejak Excavator Miliaran di Tanjab Timur Hilang Disaat Gambut Berbak Terbakar
TANJABTIM, TuntasOnline.id – Di saat asap pekat mengepung Rantau Rasau dan Berbak selama 2 minggu dan anak sekolah terpaksa daring, sebuah pertanyaan lama kembali muncul: Ke mana perginya puluhan excavator program 1 Kecamatan 1 Excavator yang dulu dibangga-banggakan?
Program ini adalah warisan kebijakan dari era Gubernur Jambi Zumi Zola, yang kemudian diadopsi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Tujuannya sangat mulia: setiap kecamatan punya alat berat sendiri untuk membuka akses jalan, membuat kanal-kanal pembasah gambut, dan membuat sekat bakar sebagai benteng terakhir melawan karhutla.
Karakter Tanjab Timur yang 62,98% wilayahnya adalah gambut seluas 311.992 hektare seharusnya membuat alat ini menjadi senjata utama.
Namun fakta di lapangan berbanding terbalik.
DARI KANAL PENCEGAH API, JADI ASET TERBENGKALAI
Data yang dihimpun http://TuntasOnline.id menunjukkan beban operasional program ini tidak kecil. Untuk 11 unit excavator, Pemkab harus menanggung biaya BBM, perawatan, dan operator hingga Rp11,53 miliar per tahun.
Saat keuangan daerah tertekan, alat-alat itu pun mangkrak.
Puncaknya, pada 3 Juni 2026 lalu, satu unit excavator aset Pemkab Tanjab Timur ditemukan tenggelam dan terbenam hampir seluruhnya di lumpur gambut kawasan Hutan Rondang. Alat yang awalnya milik Kecamatan Sabak Timur itu dibiarkan tanpa upaya penarikan, hingga mesin terancam rusak total dan menjadi kerugian keuangan daerah. Saat dikonfirmasi, pihak UPTD ALKAL PUPR Tanjab Timur selaku pengelola aset memilih bungkam.
Kondisi ini kontras dengan kucuran dana baru. Pemerintah pusat baru saja mengucurkan Rp15 miliar untuk Tanjab Timur khusus karhutla, yang sebagian akan digunakan untuk sewa alat berat dan operasional.
"Logikanya aneh. Alat yang sudah dibeli pakai uang rakyat tidak jelas nasibnya, sekarang kita harus sewa lagi alat baru pakai Rp15 miliar. Jika dulu kanal-kanal itu dibuat, mungkin api di Berbak tidak merayap sampai 2 minggu," kata PAR, warga Rantau Rasau yang merekam video asap pekat pada 12 Oktober 2026.
Warga Rantau Rasau dan Berbak kini mendesak DPRD Tanjab Timur dan Inspektorat untuk melakukan audit terbuka:
1. Audit Fisik: Berapa dari 11 unit excavator kecamatan yang masih ada dan berfungsi? Di mana posisinya hari ini?
2. Audit Fungsi: Mengapa saat darurat karhutla di Rantau Rasau - Berbak, excavator tidak dikerahkan untuk membuat sekat kanal darurat?
3. Audit Anggaran: Berapa kerugian daerah akibat aset excavator yang tenggelam dan mangkrak?
Pemerintah tidak boleh hadir hanya saat bagi sembako, tapi absen saat gambut butuh disekat.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala UPTD ALKAL PUPR Tanjab Timur dan Kepala BPBD Tanjab Timur belum memberikan keterangan resmi terkait keberadaan armada excavator tersebut.(ARP)
- 22 views
Facebook comments