Soal Anggaran Pemeliharaan dan BBM, DLH Lambar Terkesan Tutupi Informasi Penting
Lampung Barat, TuntasOnline.id - Dugaan tertutupnya informasi terkait anggaran pemeliharaan dan bahan bakar minyak (BBM) mobil pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lampung Barat tahun 2024 menjadi sorotan publik.
Hal ini terlihat saat wartawan Tuntas Online mewawancarai Kepala Seksi (Kasi) Bidang Kebersihan, Zayadi, yang terkesan enggan terbuka mengenai realisasi anggaran servis dan BBM kendaraan tersebut.
“Pada tahun 2024 mobil ini tetap beroperasi, memang sempat rusak, tapi hanya sebentar,” ujar Zayadi singkat.
Namun, ketika ditanya berapa lama kedua mobil tersebut mengalami kerusakan, Zayadi tidak dapat memberikan penjelasan pasti.
“Kalau berapa bulan rusaknya saya lupa, karena itu sudah lama di tahun 2024. Sempat kami lakukan servis, tapi karena mobil sudah tua, tidak lama kemudian rusak lagi,” jelasnya.
Menjawab pertanyaan soal tempat servis dan pembelian perlengkapan kendaraan, Zayadi menyebut beberapa lokasi.
“Untuk alat mobil kita beli di Ikbal. Bagian las ada tiga tempat: Dodo, Mahpud, dan Dildo. Untuk ban di tempat Petak, sedangkan mesin di tempat Keling,” tambahnya.
Lebih lanjut, Zayadi menjelaskan bahwa biaya servis mobil pengangkut sampah mencapai Rp 12 juta per unit per tahun, dikalikan 7 unit kendaraan, total Rp 84 juta.
Sementara untuk BBM, sebesar Rp 2,5 juta per bulan per unit, dikalikan 12 bulan dan 7 unit, total Rp 210 juta per tahun.
Saat disinggung apakah kendaraan tersebut menggunakan BBM non-subsidi, Zayadi membenarkan.
“Betul, karena sesuai dengan Peraturan Kementerian Energi Nomor 14 Tahun 2014, yang berhak menggunakan BBM non-subsidi adalah kendaraan operasional pemerintah seperti mobil pemadam, ambulans, dan termasuk mobil pengangkut sampah,” jelasnya.
Yang menarik dari keterangan tersebut, jumlah mobil pengangkut sampah yang beroperasi saat ini sebanyak 10 unit, ditambah 3 unit tidak beroperasi.
Pada tahun 2023, satu mobil telah dihapus, sedangkan dua lainnya sejak awal 2025 sudah tidak digunakan karena mendapat bantuan tiga unit mobil baru.
“Hingga saat ini anggaran pemeliharaan dan BBM untuk mobil baru tersebut belum terserap. Untuk pekerja, kami tambahkan di mobil lain, yang tadinya 5 orang termasuk sopir kini menjadi 7 sampai 8 orang,” ungkapnya.
Terakhir, ketika ditanya mengenai aktivitas para pekerja saat dua mobil mengalami kerusakan di tahun 2024, Zayadi membantah adanya mogok kerja.
“Pekerja tetap beroperasi dengan cara bergantian menggunakan mobil lain. Untuk BBM, sementara ditanggung masing-masing,” tutupnya.
(WN)
- 53 views
Facebook comments