Program MBG di Perbatasan Dinilai Positif, Namun Aspek Kebersihan Perlu Diperhatikan
Nunukan, TuntasOnline.id — Tokoh masyarakat Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, menyampaikan keprihatinan sekaligus pandangannya terkait pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi oleh para siswa di wilayah perbatasan tersebut.
H. Herman, tokoh masyarakat Sebatik yang dikenal dermawan dan aktif membantu masyarakat, menilai bahwa program MBG merupakan langkah positif dari pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Namun, menurutnya, pelaksanaan di lapangan masih perlu dilakukan evaluasi menyeluruh.
“Program ini sangat bagus, tapi perlu dievaluasi karena kondisi di perbatasan cukup terbatas. Banyak bahan makanan, terutama buah-buahan, didatangkan dari luar daerah. Tidak tertutup kemungkinan mengandung bahan pengawet agar tahan lama. Karena itu, buah-buahan harus dicuci bersih sebelum dikonsumsi,” ujar H. Herman.
Ia juga menyoroti pentingnya tenaga masak yang memiliki kompetensi dan sertifikat higienitas. Menurutnya, penyelenggara dapur MBG perlu memastikan bahwa seluruh proses pengolahan makanan memenuhi standar kebersihan dan kesehatan.
“Tempat dan tukang masak harus memiliki ilmu dan sertifikat sebagai cook. Ini program pemerintah pusat yang sangat tepat, hanya saja perlu pembenahan teknis di lapangan,” tambahnya.
H. Herman mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, satu dapur MBG di Sebatik bisa menyiapkan hingga 3.000 porsi makanan per hari. Jumlah tersebut dinilai terlalu besar dan berpotensi menimbulkan masalah dalam pengendalian kualitas makanan.
“Kalau porsi terlalu banyak, bisa jadi prosesnya terburu-buru, makanan cepat basi, dan kebersihan sulit terkontrol. Mungkin ke depan, jumlahnya bisa dikurangi menjadi 1.500 porsi agar lebih mudah diawasi dan tetap steril,” sarannya.
Sebagai tokoh masyarakat, H. Herman juga memberikan beberapa rekomendasi penting agar program MBG berjalan lebih baik ke depan, yakni:
1. Menjaga kebersihan dan sterilisasi bahan makanan.
2. Memastikan juru masak bersertifikat dan memahami standar higienitas.
3. Proses pemotongan ayam harus sesuai syariat Islam melalui pengawasan KUA.
“Ini bentuk perhatian kami agar program MBG benar-benar bermanfaat, sehat, dan aman bagi anak-anak di perbatasan,” tutupnya.
(SRF)
- 46 views
Facebook comments