Skip to main content
Kepala Ombudsman Perwakilan Bengkulu Herdi Puryanto

Terkait Meninggalnya Siswa SMPN 15, Ini Tanggapan Ombudsman

Bengkulu, Tuntasonline.com - Pacsa insiden meninggal dunia siswa SMPN 15 Kota Bengkulu Charles Purba beberapa hari yang lalu, saat mengikuti program ekstrakulikuler sekolah yaitu renang bertempat di Grage hotel. Ombudsman Republik Perwakilan Provinsi Bengkulu angkat bicara.

Ombudsman Perwakilan Provinsi Bengkulu langsung menkonfirmasi kebenaran kejadian tersebut ke pihak Dinas Pendidikan Kota Bengkulu. Terkait adanya kelalaian dari pihak sekolah dengan meregang nyawa siswa SMPN 15. 

"Ya, pihak Dinas Pendidikan Kota membenarkan ada kejadian naas ini, kemarin (kamis, 26/7) ditindaklanjuti memanggil kepala sekolah dan guru pembimbing yang mengajak siswa berenang, ini menjadi keprihatinan serius terkait extrakulikuler di setiap sekolah di Kota Bengkulu agar tetap berhati-hati menjaga siswa/siswinya. Apalagi membimbing siswa dalam jumlah yang banyak bukan 1-10 orang tapi hampir 50 orang dengan hanya satu pembimbing di lapangan saat renang," jelasnya Kepala Perwakilan Ombudsman Bengkulu, Herdi Puryanto saat ditemui di ruangnya, Jumat (27/7).

Lanjut dikatakan Herdi,  menurutnya, kalau siswanya banyak sedangkan gurunya pembimbing hanya satu orang. Bisa di buat perkelompok saja agar mempermudah pengawasan karena belum tentu semua siswa bisa berenang.

"Ya, kami juga mengharapkan Dinas Pendidikan bisa menindaklanjuti bagaimana sistem penanganan untuk ektra sekolah, tapi yang jelas pihak sekolah bertanggungjawab penuh atas kejadian tersebut, agar kedepan tidak ada lagi musibah seperti ini," katanya. 

Menurut infomasi yang beredar, almarhum Charles Purba disinyalir tidak bisa berenang dan kelalaian dari pihak sekolah dalam kurangnya pengawasan. Sebab siswa yang ikut ektra renang itu banyak.

"Kami sangat sesalkan hal ini bisa terjadi, karena ektra sekolah seperti renang itu sangat beresiko sekali untuk siswa yang tidak bisa berenang, tapi itu kan juga bisa mengasah bakat siswa yang hobi berenang, kami tidak melarang cuman, harus ada pengawasan lebih ketat lagi dan untuk guru pembimbingnya kalau siswa banyak bisa 3 sampai 4 orang guru agar lebih intens menjaga anak muridnya," tutupnya. (CW3)

Facebook comments

Berita Terkait

Adsense Google Auto Size