Geliat Kopi Karo Mulai Terasa
KARO, TuntasOnline.Com - Alasan Mengapa Kopi Karo Disukai Buyer Luar Negeri, Bupati Karo Terkelin Brahmana melalui Kadis Pertanian Karo Sarjana Purba,SSTP.MM mengamati tanaman kopi di Sula, Kecamatan Tigapanah, belum lama ini. Saat ini animo masyarakat Karo menanam kopi sangat tinggi selain karena harga jual yang cukup tinggi juga karena pasar luar negeri sangat menyukai cita rasa kopi arabica asal Karo ini.
Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), optimis kopi dari puncak ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut (m dpl) yang ada di Karo akan menjadi kopi terbaik di dunia.
Apalagi saat ini, kopi dari Karo sedang dalam proses sertifikasi indikasi geografis (IG). Di mana, pada Juli 2019 mendatang, tim dari Kemenkum HAM akan datang ke Karo untuk melakukan verifikasi.
Tanaman Pertanian Terpapar Debu vulkanik Letusan Gunung Sinabung berisiko Pangkas Produksi Pertanian Karo
“Yang mengusulkan IG itu adalah Masyarakat Perlindungan Kopi Arabica Karo,” kata Kepala Dinas Pertanian Karo,kepada TuntasOnline.com Kamis (27/6/2019), di Kabanjahe, pukul 18.30.00.
Kopi yang diusulkan itu, menurut Sarjana, berada di 10 kecamatan di Kabupaten Karo yang memiliki ketinggian tempat berkisar 1000 mdpl.
Ke-10 kecamatan itu, antara lain Kecamatan Merdeka, Dolat Rakyat, Kabanjahe, Brastagi, Simpang Empat, Namen Teran, Tiga Panah, Barus Jahe dan Kecamatan Merek.
“Sebenarnya di Kecamatan Payung juga ada tetapi pertanaman kopinya hanya sebagian kecil saja atau sedikit. Dan, ke-10 kecamatan itu merupakan kopi arabica premium (terbaik),” kata Sarjana yang diamini pemerhati kopi Karo,Nova Surya Tarigan.
Untuk luas pertanaman kopi di Karo, menurut Sarjana, berdasarkan data tahun 2018, ada berkisar 9.178 hektare dengan luas panen berkisar 6.875 hektare. Dari luas panen itu, produksi kopi yang dihasilkan berkisar 13.279 ton.
Tetapi, lanjut dia, dilihat dari tingginya animo masyarakat Karo untuk menanam kopi, luas pertanaman kopi saat ini diperkirakan sudah mencapai 11.000 hektare. Dan, luas pertanaman itu akan semakin bertambah mengingat harga kopi yang masih tinggi saat ini.
“Harga menjanjikan dan itu akan membuat petani bergairah untuk menanam kopi. Apalagi saat ini, Gunung Sinabung masih terus erupsi, dan tanaman kopi termasuk tanaman yang tahan dengan erupsi Sinabung,” jelas Sarjana.
Dikatakannya, meluasnya tanaman kopi di Karo bermula dari harga kopi yang tinggi ditambah dengan merebaknya serangan lalat buah pada tanaman jeruk petani yang membuat petani merugi.
Kondisi ini diperparah lagi dengan erupsi gunung Sinabung, dan akhirnya petani mengganti tanaman jeruknya ke tanaman kopi.
“Dari produksi kopi yang dihasilkan itu, sudah banyak yang diekspor ke berbagai negara, seperti ke California, Jerman, Taiwan dan lain sebagainya. Ekspor itu dilakukan secara B to B,” jelasnya.
Sementara itu, Eksportir Kopi asal Sumut Anna Sianturi, mengakui keunggulan kopi asal Karo.
“Negara-negara importir atau buyer kita mengakui kualitas kopi asal Tanah Karo. Apalagi score kopi arabica asal Karo ini cukup tinggi yakni 80,” kata Anna yang juga ketua UMKM Sumut ini.
Lebih lanjut Anna mengatakan, tingginya score kopi arabica Karo ini dikarenakan pertanaman kopi petani yang berada di ketinggian mencapai 1000 m dpl. Yang mana, semakin tinggi permukaan tanaman kopi maka kualitas kopi yang dihasilkan akan semakin tinggi.
“Cita rasa kopinya akan semakin enak, nikmat dan disukai para buyer,” jelasnya.
Anna sendiri mengaku telah mengekspor kopi asal Karo ke California sebanyak dua kali dan saat ini sedang dalam proses order untuk yang ketiga kalinya, kemudian ke Taiwan.
Terhadap IG kopi Karo yang sedang berlangsung saat ini, Anna mengapresiasi upaya yang dilakukan pemerintah sangat baik dalam memperoleh pengakuan daerah.
Namun, IG itu sendiri akan membuat ‘gap’ di antara petani kopi. Karena IG itu hanya dilakukan atas nama petani perorangan atau sekelompok petani.
“Itulah kelemahan IG tersebut yang kami lihat di lapangan,” ucap Anna melaluli pesan seluler.(Rekro Trgn)
- 297 views
Facebook comments