Skip to main content
Tampak

Wabah DBD Meluas, 8 Warga Meninggal

PALI, TuntasOnline.Com - Wabah Demam Berdarah ternyata belum usai menyerang Bumi Serepat Serasan. Terbukti, di awal tahun 2019 ini tercatat ada 46 pasien yang dirawat di RSUD Talang Ubi. Bahkan, sebelumnya ada 8 warga PALI yang meregang nyawa akibat penyakit DBD.

Akibat dari itu, sejumlah pihak menilai dinas terkait seolah tidak serius dalam menangani kasus yang telah memakan korban jiwa dari warga PALI.

Seperti yang disampaikan oleh M. Anasrul ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten PALI belum lama ini.

Ia menilai bahwa ada kemunduran penanganan dari Dinas Kesehatan kabupaten PALI yang menyebabkan wabah DBD menyerang Bumi Serepat Serasan hingga sekarang.

"Berdasarkan data yang dihimpun, tercatat pada akhir tahun 2018 dan awal tahun 2019 menjadi kasus yang paling banyak terjadi sejak kabupaten PALI berdiri. Artinya, ada degradasi penanganan terhadap penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypty itu. Ini yang kita sesali," terang pria yang kerap disapa Anas itu.

Anas juga menceritakan bahwa sebelumnya pada tahun 2016 sudah terbentuk Laskar Gerakan Lawan Jentik (Gelatik) yang dibuat atau diprakarsai oleg Dinas Kesehatan bekerjasama dengan para pelajar dan aktivis lingkungan lainnya. Namun sepertinya hal itu tidak berjalan kembali.

"Pada tahun 2016, ada yang namanya Laskar Gelatik, namun sepertinya hal itu tidak diperhatikan kembali oleh dinas terkait. Sehingga, keberadaan Laskar Gelatik kini tidak terdengar lagi. Ya kita berharap, Dinkes PALI benar-benar serius menangani kasus DBD ini," pintanya.

Sebelumnya, dikutip dari salahsatu media online di Kabupaten PALI bahwa Dinkes PALI hanya tetap memberikan saran kepada warga untuk melakukan 3 M, terutama di lokasi endemik DBD.

“Foging tidak menyelesaikan masalah. Kalau fogging sudah kita lakukan, tetapi kalau sering dilakukan fogging, dampaknya akan resisten atau nyamuk akan kebal dan semakin ganas. Untuk itu, kita anjurkan masyarakat terapkan pola 3M dan pembagian bubuk abate,” terang Lydwirawan.

Menurut Lydwirawan, penyakit DBD apabila sudah diinfus, pasien akan aman. “Tetapi kalau lambat ditangani akibatnya bisa mengakibatkan kematian. Untuk itu, apabila ada anggota keluarga yang mengalami gejala DBD, untuk segera dibawa ke Puskesmas atau RS. Dari akhir 2018 sampai saat ini, ada 6 orang meninggal,” akunya.

Saat di konfirmasi salah satu pasien DBD di rumah sakit umum daerah talang ubi kabupaten  PALI mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada tindakan dari dinas kesehatan maupun puskemas setempat 

" Sangat kami sayangkan sekali korban DBD sudah banyak namun dinkes kabupaten pali belum ada tanggapan serius sampai saat ini " Ujar Amrullah kepada salah satu pasien yang terbaring di RSUD Talang Ubi kepada media Sumateranews.co.id ,Senin 14 January 2019

Untuk gejala panas tinggi terus dingin menggigil terjadi pas sore dan malam hari dengan ini Kepada pemerintah  kabupaten  pali sebagai warga kami mengharapkan supaya  pemerintah  lebih serius menanganinya wabah mematikan  ini ,untuk


" Kami mengharapkan  pemerintah lebih serius menanganinya karena korban jiwa sudah banyak belum lagi ditambah pasien yang di RSUD lebih banyak lagi dan terus bertambah ,jangan sampai ada korban lagi " Harapnya.

Facebook comments

Adsense Google Auto Size